Pages

10 November 2008

Kisah di Balik Telepon

Waktu ku kecil dulu, saya sering bermain telepon-teleponan dengan menggunakan kaleng dan seutas tali sebagai penghantar, dengan posisi yang berbeda kami berpencar, mencari lawan jika ketemu kami langsung berkomunikasi satu sama lain. Dengan biaya gratis.

Lalu, sejak saya lulus SMA, sebuah telepon selular menemani saya, karena saya akan kuliah di Bandung saya dibelikan sebuah Handpone, yang saat itu harganya mahal dan untuk membeli nomor pun juga mahal.

***

Tahun pertama saya kuliah. Saya ngekost, maka untuk beli pulsa pun harus mikir ulang, karena saat itu nominal pulsa yang tersedia hanya ada 50.000 keatas. Sehingga mesti hemat-hemat pakai telepon. Paling tidak saya gunakan untuk SMS saja.

Pernah suatu ketika, saya sakit, saya sangat pusing, sehingga tidak bisa berjalan, mau nelpon Ortu, pulsa tidak ada, alhasil Orang Tua saya tidak tahu. Beruntung seorang teman menghubungi saya. Lalu saya minta ke teman saya tersebut untuk memberi tahu bahwa saya sakit dan lemah tidak berdaya dan juga tidak ada pulsa untuk mengabarkan mereka, mau ke wartelpun, saya tidak bisa berjalan.
Berkat telepon teman tersebut, orang tua saya langsung mengirimkan uang untuk berobat, dan pulsa. Apa jadinya jika teman saya tidak menelpon? Ingin rasanya pada saat itu saya bisa ngutang pulsa saja pada operator.

Lalu berkat ditelepon teman itu juga, banyak teman-teman saya yang menjenguk saya. Dan mengantarkan saya ke rumah sakit.
Kisah itu tak akan saya lupa, berkat telekomunikasi tersebut suatu tindakan tepat bisa diambil.

***

Sebuah kisah lain, dari kakak saya.
Kakak saya yang pertama, perempuan, sudah berkeluarga, dan memiliki anak. Namun karena suaminya sering pindah tugas, mereka pun tidak menetap pada suatu kota dalam periode yang lama. Paling-paling mereka cuma mengontrak rumah beberapa bulan, atau tinggal ditempat keluarga saya di Palembang.

Namun karena suami kakak saya tersebut, tidak jelas jadwalnya kapan dia pindah, sehingga kakak saya memutuskan tinggal di Palembang, bersama keluarga, sedangkan suaminya di daerah lain. Sampai sekarang anak kakak saya pun sudah besar, sekolah di SD Muhammadiyah I, pindah-pindah tempat menjadi momok yang menakutkan bagi kakak saya, karena memikirkan pendidikan anaknya. Jadi anaknya sekarang sekolah di Palembang saat ini.

Jarak yang terpisah, bukan berarti komunikasi putus bukan?
Untuk mensiasati itu, mereka saling bertelelponan untuk mengobati rasa kangen. Lalu saya kasih nomor jagoan dari Starone, dan suaminya juga pake jagoan dari Starone. Dulu sih saya tidak pernah tahu bakal ada Ngorbit (Ngobrol Irit). Lagian nomor itu juga saya dapatkan waktu mengikuti seminar dari Indosat.

Setelah ada program Ngorbit dari Starone ternyata komunikasi mereka makin lancar, kakak saya makin mesra sama suaminya, anaknya pun juga sering telepon-teleponan sama bapaknya.
Tiap hari tidak terhitung berapa kali mereka menelpon. Saya pun cuma mikir aja, koq pulsa nya ga habis-habis sih? padahal jauhan, enak bisa bekali-kali menelpon sepuasnya.

Hal seperti ini tentunya sangat menguntungkan bagi konsumen seperti kakak saya itu, mau murah nelpon kapanpun Ngorbit dengan Starone.

***

Lebaran, merupakan momen yang ditunggu-tunggu bagi umat Muslim merayakan kemenangan.
Bersilaturahmi dengan keluarga. Bahkan jika keluarganya berjauhan, orang rela untuk mudik.
Mudik pun pernah saya alami waktu saya kuliah di Bandung dulu. Naik bis, membawa tas yang berat, semua kelelahan waktu mudik sirna ketika saya menemui keluarga saya, melihat orang tua yang tersenyum menanti anaknya ini.

Tapi sayang momen mudik ini tidak bisa dinikmati oleh sebagian orang seperti Kakak saya yang kedua, laki-laki, sudah berkeluarga, lebaran kemarin tidak mudik. Ada yang kurang afdol rasanya jika tidak kumpul keluarga dengan lengkap.

Namun bukan berarti kita tidak bisa merasakan kehadirannya bukan? Sekarang teknologi semakin maju. Apalagi sejak teknologi 3G diperkenalkan, orang tersebut bisa melihat kita, dan kita pun bisa melihat dia.

Akhirnya kami 3G-an dengan Kakak saya tersebut, walaupun dia jauh, tapi serasa dekat.
Dengan memakai hanphone 3G dan sinyal kuat Indosat, gambar yang hidup, memberikan kehangatan yang luar biasa bagi kami, memberikan keharuan, dan keceriaan.

***

Kisah-kisah itu mengisyaratkan bahwa telekomunikasi merupakan bagian penting kehidupan masyarakat saat ini. Telekomunikasi membuat dunia ini menjadi dekat, memberikan kehangatan dan keharmonisan di kehidupan dan telekomuniksi tersebut telah menyelamatkan hidup saya.

Harapan saya telekomunikasi di Indonesia semakin banyak kemajuan, bukan bearti memberikan tarif murah, tapi kualitas buruk. Tapi yang diutamakan adalah kualitas layanan, dan juga tarif yang proporsional.

Jika masyarakat Indonesia yang saat ini jumlah nya 200 juta lebih, dan masing-masing orang memiliki telepon seluler. Sungguh angka yang besar,membuat nafsu para operator untuk berlomba-lomba menarik konsumen. Dengan menurunkan tarif, atau memberikan bonus-bonus tertentu.

Perang tarif disana-sini. Skema tarif yang tidak jelas, ditutup-tutupi, merupakan kebohongan yang amat besar, bagi para operator terhadap masyarakat. Ngakunya gratis, tapi harus nelpon dulu beberapa saat, atau pada jam-jam tidur merupakan tindakan "cengeng" operator telepon seluler.

Sebaiknya jika para operator membuat program, haruslah berani berbuat, jangan tanggung-tanggung. Karena sesuat yang tanggung itu malah akan mencelakakan orang banyak.

Karena telekomunikasi sekarang ini merupakan kebutuhan, sebaiknya juga para operator bertindak bagai Ibu yang melayani anaknya, yang memberikan layanan tiap saat, bukan sebagai penjual.

1 komentar:

Ranny Rachma Suci mengatakan...

untung sekarang udah lebih fleksibeln

 

Labels